Label

Tampilkan postingan dengan label KISAH SUKSES. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label KISAH SUKSES. Tampilkan semua postingan

Jumat, 27 Maret 2015

Sandi Uno, Pernah Nganggur Kini Jadi Kaya Raya

Sandiaga Salahudin Uno atau sering dipanggil Sandi Uno (lahir di Rumbai, Pekanbaru, 28 Juni 1969; umur 45 tahun) adalah pengusaha asal Indonesia. Sering hadir di acara seminar-seminar, Sandi Uno yang berdarah Gorontalo ini kerap memberikan pembekalan tentang jiwa kewirausahaan (entrepreneurship), utamanya pada pemuda.
Sandi Uno memulai usahanya setelah sempat menjadi seorang pengangguran ketika perusahaan yang mempekerjakannya bangkrut. Bersama rekannya, Sandi Uno mendirikan sebuah perusahaan di bidang keuangan, PT Saratoga Advisor. Usaha tersebut terbukti sukses dan telah mengambil alih beberapa perusahaan lain.
Pada tahun 2009, Sandi Uno tercatat sebagai orang terkaya urutan ke-29 di Indonesia menurut majalah Forbes. Tahun 2011, Forbes kembali merilis daftar orang terkaya di Indonesia. Sandiaga Uno menduduki peringkat ke-37 dengan total kekayaan US$ 660 juta.
Sandi Uno adalah lulusan Wichita State University, Amerika Serikat, dengan predikat summa cum laude. Sandi mengawali karier sebagai karyawan Bank Summa pada 1990. Setahun kemudian ia mendapat beasiswa untuk melanjutkan pendidikan di George Washington University, Amerika Serikat. Ia lulus dengan indeks prestasi kumulatif (IPK) 4,00.
Kemudian, pada tahun 1993 ia bergabung dengan Seapower Asia Investment Limited di Singapura sebagai manajer investasi sekaligus di MP Holding Limited Group (mulai 1994). Pada 1995 ia pindah ke NTI Resources Ltd di Kanada dan menjabat Executive Vice President NTI Resources Ltd. dengan penghasilan 8.000 dollar AS per bulan. Namun, krisis moneter sejak akhir 1997 menyebabkan perusahaan tempatnya bekerja bangkrut. Sandi pun tidak bisa lagi meneruskan pekerjaanya tersebut. Ia pulang ke Indonesia dengan predikat pengangguran. Meskipun demikian, karena kejadian tersebut, Sandi Uno kemudian mengubah cara pandangnya dan berbalik arah menjadi pengusaha.
Pada tahun 1997 Sandi Uno mendirikan perusahaan penasihat keuangan, PT Recapital Advisors bersama teman SMA-nya, Rosan Perkasa Roeslani. Salah satu mentor bisnisnya adalah William Soeryadjaya. Kemudian, pada 1998 ia dan Edwin Soeryadjaya, putra William, mendirikan perusahaan investasi bernama PT Saratoga Investama Sedaya. Bidang usahanya meliputi pertambangan, telekomunikasi, dan produk kehutanan.
Berbekal jejaring (network) yang baik dengan perusahaan serta lembaga keuangan dalam dan luar negeri, Sandi Uno sukses menjalankan bisnis tersebut. Mekanisme kinerja perusahaan tersebut adalah menghimpun modal investor untuk mengakuisisi perusahaan-perusahaan yang mengalami masalah keuangan. Kinerja perusahaan yang krisis itu kemudian dibenahi dan dikembangkan. Setelah kembali sehat, aset perusahaan tersebut dijual kembali dengan nilai yang lebih tinggi. Hingga 2009, ada 12 perusahaan yang sudah diambil alih oleh PT Saratoga. Beberapa perusahaan pun telah dijual kembali , antara lain PT Dipasena Citra Darmaja, PT Bank Tabungan Pensiunan Nasional (BTPN), dan PT Astra Microtronics.
Pada 2005-2008, Sandi Uno menjadi ketua umum Himpunan pengusaha Muda Indonesia (HIPMI). Ia juga menjadi Ketua Komite Tetap Bidang Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di Kamar Dagang dan Industri Indonesia (Kadin) sejak 2004.
Sandi dinobatkan menjadi 122 orang terkaya di Indonesia versi majalah Asia Globe dengan total aset perusahaan mencapai 80 juta dollar AS, pada 2007.
Sementara, pada 2008 ia dinobatkan menjadi orang terkaya ke-63 di Indonesia dengan total aset 245 juta dollar AS. Pada 2009 Sandi masuk sebagai pendatang baru dalam daftar 40 orang terkaya Indonesia versi majalah Forbes. Majalah tersebut menuliskan Sandi memiliki kekayaan US$ 400 juta dan berada di peringkat 29.
Saat ini, Sandi Uno juga menjadi jajaran direksi beberapa perusahaan, di antaranya: PT Adaro Indonesia, PT Indonesia Bulk Terminal, PT Mitra Global Telekomunikasi Indonesia, Interra Resources Limited, dan PT. iFORTE SOLUSI INFOTEK.
Pada bulan Mei 2011 lalu, ia memutuskan membeli 51% saham Mandala Airlines.
Menurut Sandi, keberanian dan optimisme dalam memandang masa depan menjadi kunci pembuka jalan untuk meraih kesuksesan. Selain itu, bangunan jejaring juga harus menjadi perhatian. Meskipun demikian, jejaring relasi hanya menyumbang 30 persen dari kesuksesan. Unsur kesuksesan, menurutnya, selebihnya bersumber dari kerja keras dan menjaga kepercayaan. Sandi Uno menganggap bahwa hidup harus memiliki target. Tanpa target, pencapaian yang ingin diraih akan sulit terwujud.
Menurut Sandi Uno, kegagalan dan kesalahan merupakan keniscayaan dalam berusaha. Tapi ia optimis bahwa kegigihan dalam upaya untuk terus berani mencoba adalah kunci menuju kesuksesan. Apabila terus selalu mencoba untuk belajar dari kesalahan dan kegagalan (trial and error), maka hal itu akan mengantarkan seseorang pada puncak kesuksesan.
Sandi Uno menyatakan bahwa salah satu strategi penting dalam meraih keberhasilan adalah mencari tahu dan mempelajari apa yang telah dilakukan oleh orang-orang yang telah berhasil meraih kesuksesan. Kuncinya adalah belajar dari pengalaman mereka sampai mampu meraih kesuksesan seperti mereka.
Menurut Sandi Uno, untuk meraih kesuksesan tersebut sesorang harus memiliki kompetensi, kapasitas dan kapabilitas yang memadai. Untuk mendapatkannya seseorang senantiasa harus memiliki karakter dan komitmen yang kuat, integritas yang tinggi, tekun, bekerja keras, dan disiplin
Sandi Uno menegaskan bahwa perlu adanya inovasi tiada henti dengan selalu tanggap terhadap perubahan dan terus menerus berusaha menuju perubahan yang lebih baik lagi. Menurutnya, akan lebih bagus lagi apabila seseorang berusaha untuk bisa menjadi seorang role model yang bisa memberikan contoh yang baik dan inspirasi bagi orang lain di sekitarnya.

Erick Thohir, Pemilik Klub Sepakbola Inter Milan

Erick Thohir (lahir di Jakarta, Indonesia, 30 Mei 1970; umur 45 tahun) adalah seorang pengusaha asal Indonesia dan merupakan salah satu pendiri Mahaka Media. Ia menjadi terkenal karena aktivitas bisnisnya di bidang olahraga.
Erick adalah anak dari Teddy Thohir, salah satu pemilik (co-owner) dari grup Astra International bersama William Soeryadjaya. Saudaranya, Garibaldi "Boy" Thohir, adalah seorang bankir investasi. Ia juga memiliki kakak perempuan bernama Rika. Tohir kecil turut membantu bisnis keluarga.
Pada tahun 1993 Erick lulus program Master untuk Administrasi Bisnis (Master of Business Administration) dari Universitas Nasional California, Amerika Serikat, sebelumnya gelar sarjananya (Bachelor of Arts) diperoleh dari Glendale University.
Sekembalinya ke Indonesia, bersama Wisnu Wardhana dan R. Harry Zulnardy, ia mendirikan Mahaka Group. Perusahaan ini membeli Republika pada tahun 2001 saat berada di ambang kebangkrutan. Karena belum berpengalaman di bisnis media, ia mendapat bimbingan dari ayahnya serta Jakob Oetama dari Kompas dan Dahlan Iskan dari Jawa Pos.
Erick menjadi Presiden Direktur PT Mahaka Media hingga 30 Juni 2008, ia kemudian menjabat sebagai komisioner sejak Juni 2010 hingga kini.
Mahaka Group kemudian membeli pula Harian Indonesia dan diterbitkan ulang dengan nama Sin Chew-Harian Indonesia dengan konten editorial dan pengelolaan dari Sin Chew Media Corporation Berhad yang berbasis di Kuala Lumpur, Malaysia. Media ini kemudian dikelola secara independen oleh PT Emas Dua Ribu, mitra perusahaan Mahaka Media.
Erick juga menjabat sebagai Ketua Komite Konten dan Industri Aplikasi untuk Kamar Dagang Industri (KADIN).
Hingga 2009, Grup Mahaka telah berkembang dan menguasai majalah a+, Parents Indonesia, dan Golf Digest; Sementara untuk bisnis media surat kabar: Sin Chew Indonesia dan Republika; Stasiun TV: JakTV, stasiun radio GEN 98.7 FM, Prambors FM, Delta FM, dan FeMale Radio.
Selain di bidang media Erick juga memiliki usaha di bidang periklanan, jual-beli tiket, serta desain situs web. Ia juga pendiri dari organisasi amal "Darma Bakti Mahaka Foundation" dan "Dompet Dhuafa Republika", serta menjadi Presiden Direktur VIVA grup, dan Beyond Media.
Erick yang gemar bola basket pernah menjabat sebagai Ketua Umum PERBASI periode 2006–2010 dan menjabat sebagai Presiden Asosiasi Bola Basket Asia Tenggara(SEABA) selama dua kali, yaitu periode 2006–2010 dan 2010–2014.
Tahun 2012 Erick dipercaya sebagai Komandan Kontingen Indonesia untuk Olimpiade London 2012. Juga pada tahun 2012, Thohir dan Levien menjadi pemilik saham mayoritas sebuah klub Major League Soccer, D.C. United. Transaksi ini membuatnya dikenal sebagai orang Asia pertama yang memiliki Tim Basket NBA setelah ia membeli saham dari Philadelphia 76ers.
Pada tahun 2013, Erick menawarkan dana sejumlah 250 hingga 300 juta Euro (2,8-3,2 triliun Rupiah) untuk membeli 80 persen saham dari klub sepak bola ItaliaInternazionale Milano atau yang lebih dikenal dengan nama Inter Milan setelah berdiskusi dengan pemiliknya, Massimo Moratti.
Meskipun ia dan Moratti tidak mengakui bahwa pertemuan mereka berkaitan tentang rencana pembelian saham Inter Milan, namun sejumlah media di Italia mengabarkan bahwa Thohir sudah selangkah lagi mendapatkan 70% saham Inter.
Pada hari Selasa, 15 Oktober 2013, bertepatan dengan hari raya Idul Adha 1434H. Inter sudah resmi milik Erick Thohir, meskipun secara efektif Thohir hanya menguasai 70%, Moratti 30%, dan sisanya dibagi ke pemegang saham mayoritas International Sports Capital (ISC). bersama rekannya yaitu Rosan Roeslani dan Handy Soetedjo.
Pada hari Jum'at, 15 November 2013, Thohir resmi menjabat sebagai presiden klub Inter Milan yang baru. menggantikan Moratti, sementara Moratti menjadi Presiden Kehormatan Inter. Ia tidak sendirian mengakuisisi Inter Milan. Tergabung dalam International Sports Capital (ISC), ia membeli Nerazzurri bersama Rosan Roeslani dan Handy Soetedjo.
Ia juga memiliki beberapa restoran, di antaranya: Hanamasa dan Pronto yang merupakan salah satu warisan bisnis dari ayahnya.
Erick Thohir juga menjadi penulis buku yang berjudul Pers Indonesia di Mata Saya yang diluncurkan tahun 2011 oleh penerbit Republika. (Sumber: wikipedia)

Garibaldi Thohir, Pengusaha Batu Bara dan Bankir Investasi

Garibaldi Thohir (lahir di Jakarta, Indonesia, 1 Mei 1965; umur 50 tahun) atau biasa dikenal dengan Boy Thohir adalah seorang pengusaha dan bankir investasi yang berasal dari Indonesia. Ia dikenal sebagai pengusaha tambang batu bara dengan grup perusahaan di bawah bendera Adaro Energy.
Adaro Energy dikembangkan bersama Edwin Soeryadjaya dan Theodore Permadi Rachmat. Di Adaro Energy, ia menduduki jabatan sebagai Presiden Direktur. Pada 2014, Forbes merilis daftar orang terkaya di Indonesia, ia menduduki peringkat ke-37.
Garibaldi Thohir adalah anak dari Teddy Thohir, salah satu pemilik (co-owner) dari grup Astra International bersamaWilliam Soeryadjaya. Ayahnya juga seorang pengusaha yang memiliki berbagai macam bisnis. Karir bisnisnya diawali setelah mendapatkan gelar MBA dari Northrop University, Amerika Serikat, ia bergabung dengan Astra yang saat itu dipimpin oleh ayahnya.
Setelah merasa cukup belajar di Astra, ia mencoba peruntungannya dengan mendirikan perusahaan property dengan membangun aparteman di kawasan Casablanca, Jakarta. Tetapi usaha ini tidak berjalan dengan mulus dan masalah pembebasan lahan menjadi kendala utama, akhirnya perusahaan ini dijual ke ayahnya.
Pada tahun 1992, ia bergabung dengan perusahaan tambang di Sawah Lunto Sumatera Barat yaitu PT. Allied Indo Coal. Tahun 1997, Ia juga memulai bisnisnya di bidang keuangan dengan mengakusisi perusahaan multi finansial PT. Wahana Ottomitra Multiartha atau dikenal dengan sebutan PT. WOM Finance. Perusahaan ini bergerak dalam bidang penyedia pembiayaan publik khusunya pembelian sepeda motor Honda.
Pada tahun 2005, bersama Theodore Permadi Rachmat Edwin Soeryadjaya, Sandiaga Uno, dan Benny Soebianto, ia membentuk konsorsium baru membeli saham Adaro Energy dari New Hope, perusahaan asal Australia. Ini menjadi titik balik dari bisnisnya, ia berhasil menjadikan Adaro Energy sebagai terbesar kedua di Indonesia setelah PT Kaltim Prima Coal dan salah satu produsen batubara terbesar kelima di dunia.
Tahun 2008, Adaro Energy melakukan penjualan saham perdana ke publik (initial public offering/IPO). Adaro mengusung produk batubara dengan brand Envirocoal, batubara yang ditambang dengan konsep ramah lingkungan.
Pada akhir tahun 2011, Forbes menempatkan Adaro sebagai satu dari 50 Perusahaan Terbaik di Asia.
Pada 30 Mei 2013 dengan tujuan memperkuat investasinya, Garibaldi Thohir memborong saham perusahaan yang dipimpinnya sendiri. Ia membeli 2 juta lembar saham ADRO di harga Rp 950/lembar saham atau sekitar Rp 1,9 miliar. Pada 2014, PT Adaro Power dengan anak usaha Korea East-West Power Co. Ltd.membentuk perusahaan patungan, PT Tanjung Power Indonesia yang rencananya akan membangun Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) berkapasitas 2 X 100 megawatt (MW) di Tabalong, Kalimantan Selatan (Kalsel).
Melalui Adaro Energy, pada 2014, Garibaldi Thohir dinobatkan sebagai orang terkaya no. 37 oleh majalah Forbes dengan kekayaan 855 juta US$.
Garibaldi Thohir menikah dengan Alinda Thohir dan memiliki 3 orang anak. Selain itu, ia juga memiliki saudara, Erick Thohir, seorang pengusaha dan pemilik Klub sepak bola Inter Milan dan klub basket Philadelphia 76ers (NBA). Garibaldi Thohir memiliki kakak perempuan bernama Rika. (Sumber: wikipedia)

Achmad Hamami, Menjadi Kaya Tanpa Korupsi

Dilema itu akhirnya terpecahkan. Achmad Hamami bisa bernafas lega. Beban berat perwira Angkatan Laut itu sirna setelah membuat sebuah keputusan besar pada tahun 1967 itu. Dia memilih pensiun dini dari dinas militer. Institusi kebanggaan yang tengah dirubung korupsi akut.
Pilihan ini sungguh berat. Saat itu, kariernya tengah moncer. Jabatan Wakil Direktur Operasi Departemen Pertahanan berada dalam genggaman. Sebuah jaminan untuk menapaki hidup nyaman di masa depan bersama sang istri, Rubiasih Soemadipradja, dan empat anaknya.
Namun, pemilik nama lengkap Achmad Hadiat Kismet Hamami ini bukan tipe manusia serakah. Hatinya sudah muak dengan korupsi yang mewabah di lembaganya. Sehingga dia rela menanggalkan seragam kebesaran, juga pangkat yang mengkilap.
Hamami tak lagi peduli pada reputasi terhormat sebagai pilot jet tempur jempolan. Atau bahkan prestasi sebagai penyandang pangkat kolonel termuda. Sederet gelar dari pendidikan militer Belanda dan Inggris pun turut diabaikan. Pria kelahiran Jakarta 29 Juli 1930 ini berkata, “Jangan terjerembab ke pusaran korupsi laknat!”
Pilihan Hamami ternyata tepat. Setelah tak jadi serdadu, dia mulai membangun bisnis. Memelihara gurita usaha yang diawali dengan bisnis alat berat. “Roti dan kacang kami adalah alat berat,” tutur putra Hamami, Rachmat Mulyana Hamami.
Mantan penerbang TNI AL ini tak hanya piawai mengendalikan pesawat tempur. Dia ternyata juga pandai menyetir bisnis besar. Pandangannya jauh ke depan. Usaha ini dia racik untuk beberapa generasi. Turun-temurun, hingga anak-cucu.
“Ayah saya selalu bermimpi memiliki bisnisnya sampai 100 tahun. Siapa saja bisa memiliki bisnis keluarga, tapi hanya sedikit yang bertahan dari generasi ke generasi,” tambah Rachmat.
Usaha inilah yang mengantarkan bapak empat anak ini ke deretan orang terkaya di Indonesia. Tahun 2014, Majalah Forbes menempatkan Achmad Hamami pada peringkat 28 sebagai taipan terkaya Tanah Air. Kekayaannya mencapai US$ 1,2 miliar atau sekitar Rp 15 triliun.
Tapi perjuangan menuju orang terkaya bukan perkara mudah. Ekonomi keluarga Hamami sedikit goyah setelah memutuskan pensiun dini. Uang di tabungan terkuras. Mau tak mau dia harus membuka usaha. Les matematika di rumah pun dia buka. Demi mengepulkan asap dapur, anak-anak Hamami turut bergerak, berjualan es lilin keliling Kwitang.
Mengetahui kondisi ini, Soemitro Djojohadikoesoemo, yang kala itu menjabat sebagai menteri, menawari Hamami bekerja di Indoconsult Associates atau yang sekarang disebut Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM). Tawaran itu disampaikan melalui sang mertua, Mamoen Soemadipraja. Soemitro dan Mamoen merupakan dekan di Universitas Indonesia, sekaligus mitra bermain tenis.
Dari situlah Hamami menjalin jaringan luas di kalangan bisnis. Dia bekerja di Indoconsult sampai 1970. Dia kemudian keluar dan mendirikan perusahaan pertamanya, PT Trakindo Utama, pada 23 Desember tahun yang sama. Basis perusahaan pun dibangun di Cilandak, Jakarta Selatan.
Angin keberuntungan mulai menerpa Hamami. Produsen alat berat asal Amerika Serikat, Caterpillar, tengah merajuk dengan distributor mereka di Surabaya. Rekanan di Kota Pahlawan itu dianggap tak maksimal mempromosikan produk Caterpillar.
Hamami pun melihat peluang ini. Hamami memang sudah berhubungan lama dengan Caterpillar sejak bekerja di Indoconsult. Karena peluang itulah, dia perdalam ilmu manajemen. Mengambil kelas malam di Universitas Dwipayana. Siang bekerja, Hamami belajar manajemen hingga larut malam. Gelar sarjana ekonomi diraih pada 1970.
Kerja keras itu akhirnya terbayar. Caterpillar kepincut. Perusahaan Paman Sam ini tertarik dengan latar belakang Hamami sebagai mantan tentara dengan reputasi bersih. Kerja sama pun terjalin. Akhirnya Trakindo resmi menjadi partner Caterpillar sejak 13 April 1971.
Booming pembangunan di Indonesia sejak dekade 1970-an semakin melambungkan bisnis Hamami. Tak hanya bidang konstruksi, alat-alat berat Trakindo juga laris dipesan perusahaan tambang. PT Freeport Indonesia menjadi salah satu klien besarnya.
Berkembang pesat, Hamami pun membangun anak-anak usaha untuk menopang Trakindo. Pada 1977 PT Sanggar Sarana Baja berdiri untuk layanan perancangan dan fabrikasi pasar industri peralatan berat. Tahun 1982, PT Natra Raya dibentuk untuk bisnis manufaktur dan perakitan alat berat Caterpillar. Sejak itu, anak-anak usaha lainnya terus lahir.
Namun di ujung dekade 1990-an, badai menerjang bisnis Hamami. Trakindo terpuruk saat Indonesia dihajar krisis ekonomi 1998. Hutang perusahaan menumpuk hingga US$ 118 juta. Masa-masa berat merundung. Selain terlilit utang, kesehatan Hamami semakin memburuk. Pada 1999, dia terserang glaukoma, yang membuatnya buta.
Tekanan krisis ekonomi semakin memperburuk kesehatannya. Di tengah kondisi sakit, Hamami nekat terbang ke Singapura. Mencari pinjaman bank guna membayar hutang. Namun gagal.
Keluarga Hamami terpaksa membayar hutang itu dengan menguras tabungan keluarga. Tapi kabar baiknya, sejak itu pula Trakindo terbebas dari jeratan rente.
Hamami mencoba bangkit. Pada 16 Agustus 2000, PT Tiara Marga Trakindo (TMT) berdiri. Perusahaan ini menjadi induk Grup Trakindo. Hamami memimpin TMT sejak 2001 hingga sekarang.
Kini, di bawah TMT, bernaung sejumlah anak perusahaan yang dikendalikan putra putri Hamami. PT ABM Investama Tbk., perusahaan bidang energi, dikendalikan Rachmat Mulyana Hamami; PT Trakindo dikelola Bari Hamami; PT Mahadana Dasha Utama (MahaDasha) dipegang Mivida Hamami.
Anak perusahaan lain adalah PT Chandra Sakti Utama Leasing (CSUL finance) dan PT Radana Bhaskara Finance, Tbk. Sementara, anak perempuan Hamami, Anna Solana Hamami yang menjadi dokter gigi, mengemban jabatan komisaris di TMT.
Dengan anak-anak perusahaan itu, keluarga Hamami melebarkan cengkraman bisnisnya. Tahun ini, setelah memperkuat penetrasi perseroan di segmen ritel dengan mengelola dua merek restoran waralaba internasional, Carl's Jr. dan Wingstop, keluarga Hamami membuka usaha supermarket LOKA.
Supermarket itu diluncurkan melalui PT Mega Mahadana Hadiya (Mahadya), unit usaha PT Mahadana Dasha Utama.
Kini, usia Hamami sudah 84 tahun, namun masih aktif berkecimpung di perusahaan. Hamami yang dulu lihai mengendalikan jet tempur di angkasa, kini menjelma sebagai nahkoda bisnis handal.
Menjadi kaya, bagi Hamami, bukanlah dosa. Tapi bagaimana usaha menjadi kaya itu dibangun dari kejujuran dan kerja keras. Bukan hasil korupsi. Lewat perjalanan waktu, Hamami membuktikan bahwa dia bisa. Menjadi kaya tanpa korupsi. (Sumber: dream.co.id)

Hendy Setiono, Menjadi Milyarder Berkat Kebab Turki

Usianya masih muda, tapi sudah menjadi seorang milyarder. Itulah yang dialami oleh Hendy Setiono, Presiden Direktur Kebab Turki Baba Rafi yang lahir di Surabaya, 30 Maret 1983 ini. Prestasinya tidak hanya diakui di dalam negeri, tapi juga di mancanegara. Bahkan, oleh majalah Tempo edisi akhir 2006, dia dinobatkan sebagai salah seorang di antara sepuluh tokoh pilihan yang dinilai mengubah Indonesia. Tentu, sebuah pengakuan yang membanggakan bagi Hendy. Apalagi, bisnis yang dia geluti tergolong bisnis yang tak akrab di telinga. Usianya pun masih 32 tahun! Wow, masih sangat muda untuk seorang bos yang memiliki 100 outlet di 16 kota di Indonesia.
Kebab adalah makanan khas Timur Tengah (Timteng) yang dibuat dari daging sapi panggang, diracik dengan sayuran segar, dan dibumbui mayonaise, lalu digulung dengan tortila. Sebenarnya, kebab banyak beredar di Qatar dan negara Timteng lainnya. Namun, kata Hendy, kebab paling enak adalah dari Istambul, Turki. Karena itu, dia menggunakan “trade mark” Turki untuk menarik calon pelanggan.
Hendy mengisahkan, pada Mei 2003, dirinya mengunjungi ayahnya yang bertugas di perusahaan minyak di Qatar. Selama di negeri yang baru sukses melaksanakan Asian Games itu, dia banyak menemui kedai kebab yang dijubeli warga setempat. Lantaran penasaran, Hendy yang mengaku hobi makan itu lantas mencoba makanan yang lezat bila dimakan dalam kondisi masih panas tersebut. “Ternyata, rasanya sangat enak. Saya tak menduga rasanya seperti itu,” ungkap sulung dua bersaudara pasangan Ir H Bambang Sudiono dan Endah Setijowati tersebut.
Tak hanya perutnya kenyang, saat itu di benak Hendy langsung terbersit pikiran untuk membuka usaha kebab di Indonesia. Alasannya, selain belum banyak usaha semacam itu, di Indonesia terdapat warga keturunan Timteng yang menyebar di berbagai kota.
“Orang Indonesia juga banyak yang naik haji atau umrah. Biasanya, mereka pernah merasakan kebab di Makkah atau Madinah. Nah, mereka bisa bernostalgia makan kebab cukup di outlet saya,” jelasnya.
“Makanya, selama di Qatar, saya juga memanfaatkan waktu untuk berburu resep kebab. Saya mencarinya di kedai kebab yang paling ramai pengunjungnya,” jelas Hendy yang beristri Nilamsari.
Begitu tiba kembali di Surabaya, dia langsung menyusun strategi bisnis. Yang pertama dilakukan adalah mencari partner. Dia tidak ingin usahanya asal-asalan. Dia kemudian bertemu Hasan Baraja, kawan bisnisnya yang kebetulan juga senang kuliner. Awalnya, mereka sengaja melakukan trial and error untuk menjajaki peluang bisnis serta pangsa pasarnya.
“Ternyata, resep kebab dari Qatar yang rasa kapulaga dan cengkehnya cukup kuat tidak begitu disukai konsumen. Ukurannya pun terlalu besar. Makanya, kami memodifikasi rasa dan ukuran yang pas supaya lebih familier dengan orang Indonesia,” katanya.
September 2003, gerobak jualan kebab pertamanya mulai beroperasi. Tepatnya di salah satu pojok Jalan Nginden Semolo, berdekatan dengan area kampus dan tempat tinggalnya.
Mengapa gerobak? Hendy mempunyai alasan. “Membuat gerobak lebih murah daripada membuat kedai permanen. Tidak perlu banyak modal. Gerobak pun fleksibel, bisa dipindah-pindah,” ujarnya.
Soal nama kedainya Baba Rafi, dia mengaku terinspirasi nama anak pertamanya, Rafi Darmawan. “Diberi nama Kebab Pak Hendy kok tidak komersial,” katanya lalu tergelak.
Saat itulah terlintas di benaknya nama si sulung, Rafi. “Kalau dipikir-pikir, pakai nama Baba Rafi, lucu juga rasanya. Baba kan berarti bapak, jadi Baba Rafi berarti bapaknya Rafi,” katanya.
Mengawali sebuah bisnis memang tidak mudah. Apalagi untuk meraih sukses seperti sekarang. Suka duka pun dirasakan calon bapak tiga anak itu. “Misalnya, uang berjualan dibawa lari karyawan. Banyak karyawan yang keluar masuk. Baru beberapa minggu bekerja sudah minta keluar,” ungkapnya.
Bahkan, pernah suatu hari, karena tak mempunyai karyawan, Hendy dan istri berjualan. Hari itu kebetulan hujan. Tak banyak orang membeli kebab. Makanya, pemasukan pun sedikit. “Uang hasil berjualan hari itu digunakan membeli makan di warung seafood saja tak cukup. Wah, itu pengalaman pahit yang selalu kami kenang,” ujarnya.
Tak ingin setengah-setengah dalam menjalankan bisnis, lulusan SMA Negeri 5 Surabaya tersebut akhirnya memutuskan berhenti dari bangku kuliah pada tahun kedua. “Saya OD alias out duluan. Tapi, saya tidak menyesal meninggalkan bangku kuliah untuk membangun usaha,” tegas Hendy yang pernah mengenyam pendidikan di Fakultas Teknik Informatika ITS tersebut.
Keputusan dia untuk meninggalkan bangku kuliah guna menekuni bisnis kebab tersebut sempat ditentang orang tuanya. Mereka ingin Hendy menjadi orang kantoran seperti ayahnya. Karena itu, ketika dia meminta bantuan modal, orang tuanya menganggap bisnis yang akan dilakoni tersebut adalah proyek iseng. “Mereka pikir saya tidak serius pada bisnis itu. Dalam hati, saya ingin membuktikan kepada bapak dan ibu bahwa kelak saya pasti berhasil,” jelasnya.
Yang luar biasa, kesuksesan bisnis Hendy tak perlu waktu lama. Hanya dalam 3-4 tahun, dia berhasil mengembangkan sayap di mana-mana. Bahkan, hingga pengujung 2006, pengusaha muda tersebut mencatat telah memiliki 100 outlet Kebab Turki Baba Rafi yang tersebar di 16 kota di Indonesia. Tidak hanya di Jawa, tapi juga di Bali, Sumatera, Sulawesi, dan Kalimantan.
Ke depan, Hendy berencana mengembangkan usahanya itu ke luar negeri. Dua negara yang diincar adalah Malaysia dan Thailand. “TV BBC London dan majalah Business Week International pernah meliput usaha saya tersebut. Setelah itu, ada orang yang menawari saya membuka outlet di Trinidad & Tobago serta Kamboja,” jelasnya.
Sukses bisnis kebab waralaba Hendy itu juga menghasilkan berbagai award, baik dari dalam maupun luar negeri. Di antaranya, ISMBEA (Indonesian Small Medium Business Entrepreneur Award) 2006 yang diberikan Menteri Koperasi dan UKM. Hendy juga ditahbiskan sebagai ASIA’s Best Entrepreneur Under 25 oleh majalah Business Week International 2006. Untuk meraih award tersebut, dia bersaing dengan 20 kandidat pengusaha lain dari berbagai negara di Asia.
Pria kalem itu juga mendapatkan penghargaan Citra Pengusaha Berprestasi Indonesia Abad Ke-21 yang dianugerahkan Profesi Indonesia. Kemudian, penghargaan Enterprise 50 dari majalah SWA untuk 50 perusahaan yang berkembang dalam setahun terakhir. Serta, di penghujung 2006, majalah Tempo menobatkan Hendy menjadi salah seorang di antara sepuluh tokoh pilihan yang mengubah Indonesia.
Apa yang akan dilakukan Hendy selain mengembangkan usahanya ke mancanegara? Tampaknya, dia ingin seperti raja komputer, Bill Gates. “Saya belajar dari para pengusaha sukses. Salah satunya, Bill Gates. Dia bisa mendirikan kerajaan Microsoft, meski tidak tamat sekolah. Jadi, intinya, untuk menjadi orang sukses, tidak harus memiliki gelar akademis dan indeks prestasi (IP) tinggi,” tegasnya lalu tertawa. (sumber: digitalpromosi.com)