Tampilkan postingan dengan label MOTIVASI. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label MOTIVASI. Tampilkan semua postingan

Rabu, 04 Maret 2015

Sukses itu Harus Berani Keluar dari Zona Aman

Jika ditanya, lebih memilih bekerja pada orang atau membuat lapangan pekerjaan sendiri? Jawaban orang tentu akan berbeda-beda.Bagi orang yang lebih nyaman bekerja pada orang karena tidak memiliki bakat menjadi pengusaha, maka ia akan memilih pilihan ini. Resikonya, ia tidak akan bisa mencapai penghasilan yang maksimal. Namun, untungnya, ia tidak terlalu pusing karena memikirkan resikonya.Meskipun, setiap pekerjaan apapun pasti ada resikonya.Namun, bekerja pada orang lain dengan gaji yang sudah ada di depan mata, resikonya lebih kecil dibandingkan ia memulai dari nol untuk berusaha.

Inilah penyakit kebanyakan orang. Orang lebih memilih zona aman, tidak mau mengambil resiko. Hambali, sebelum menjadi direktur PT. Damtour adalah seorang marketing di sebuah perusahaan travel haji dan umroh. Setelah makan garam pengalaman, ia pun keluar dan mendirikan perusahaan sendiri. Ia ingin mendapatkan penghasilan lebih.Dalam hal ini, ia berani mengambil resiko dengan keluar dari perkerjaannya yang sebenarnya sudah mapan.

Temannya di kantor yang lama diajaknya untuk bergabung dengan perusahaan yang didirikan Hambali, namun menolaknya. Sang teman lebih memilih zona aman. Tidak butuh waktu lama, sekitar 2-3 tahun, Hambali pun sukses mengembangkan usahanya. Bulan ini saja (Maret 2015), PT. Damtour berhasil memberangkatkan jamaah umrah ke tanah suci sebanyak 177 orang. Ini merupakan jumlah yang cukup besar, mengingat ia masih muda dan perusahaan yang dibangunnya juga masih kemarin sore.

Namun, asal tahu saja, bahwa berkat kemampuannya dalam mengelola PT. Damtour, Hambali pernah diganjar penghargaan pengusaha muda terbaik tahun ini. Cabangnya sudah merata hampir di seluruh Indonesia, termasuk di Papua.

Kisah Hambali ini merupakan contoh seseorang yang berani keluar dari zona aman dan ternyata berhasil. Banyak juga orang yang keluar dari zona aman, tetapi gagal. Untuk itulah, banyak orang yang tidak berani mengambil resiko ini.

Namun, pertanyaannya sederhana: kita mau pilih gaji yang besar atau kecil? Jawabannya: tentu saja besar. Nah, gaji yang besar itu bisa kita dapatkan hanya dengan keluar dari zona aman dan mendirikan perusahaan sendiri. Perusahaan itu bisa dalam bentuk PT, CV, minimarket, toko sembako, bengkel motor/mobil, dan sebagainya. Yang jelas, ia berdiri di atas kakinya sendiri, bukan kaki orang lain.

Inginkah Anda mendapatkan penghasilan yang lebih besar? Mulailah dari sekarang untuk berani keluar dari zona aman.  

Sukses itu Pernah Gagal

Saya yakin 100 persen, tidak ada seorang pun yang hidup di dunia ini yang tidak pernah gagal baik itu dalam bidang pendidikan, usaha, pekerjaan dan sebagainya. Bagi orang-orang sukses, kegagalan itu seperti garam buat makanan atau tiang dalam sebuah rumah. Kegagalan hidup itu justru mengenakan (garam) dan menguatkan (tiang) pelakunya.

Mungkin Anda kenal Thomas Alfa Edison,berapa kali ia gagal dalam bereksperimen sebelum menghasilkan penemuan yang sangat spektakuler, yaitu listrik? Demikian pula yang lainnya.

Karena itu, saat Anda gagal dalam berusaha, segeralah bangkit dan kemudian analisa kegagalan dan carilah formulanya. Janganlah Anda terpuruk dan larut dalam kegagalan itu. Kalau kata orang, "Kegagalan itu adalah awal dari sebuah kesuksesan." 

Ungkapan di atas ada benarnya. Dengan syarat, ia mau belajar dari kegagalannya. Sebab, ada pula orang yang gagal dan terus gagal hingga akhirnya bangkrut. Sebab, ia tak mau belajar dari kegagalannya.

Saya punya kisah tentang seorang laki-laki yang mata kanannya terkena pterigium (pembengkakan mata secara abnormal). Saat itu ia sempat terpikir ingin bunuh diri. Ketika mengendarai motor, terkadang terlintas dalam pikirannya ingin menabrakkan dirinya ke sebuah benda yang ada di depan. Ia benar-benar dilanda stress luar biasa. Sebab, dari pterigium ini ia kemudian terkena penyakit syaraf otak juga. Saat itu, ia berpikir bahwa ia telah gagal menjadi seorang manusia.

Namun, ia kemudian bangkit. Akhirnya ia bisa berpikir bahwa penyakit yang menghinggapinya itu bukanlah akhir segalanya. Ia masih punya harapan untuk sembuh. Kini, apa yang terjadi?

Laki-laki itu, meski belum sukses, tapi telah menghasilkan dua buah karya berjudul "Optimis Haji Bisa Gratis" dan "17 Magical Ways". Ia juga telah menjadi penulis Ghost Writer untuk beberapa buku (sekitar 5 buah).

Yang mengejutkan dan membuat iri banyak orang, ia bisa mendapatkan istri yang sangat cantik (kata orang-orang sih). Padahal, yang dikhawatirkan laki-laki itu, dengan penyakitnya ia tidak bisa mendapatkan seorang wanita. Kini, ia tidak saja bisa mendapatkannya, tapi juga berhasil menikahi seorang wanita yang sangat cantik.

Semua itu disebabkan apa? Disebabkan, ia bisa bangkit dari keterpurukannya. Jika tidak, ia bisa stress dan akhirnya menjadi gila. Betapa banyak kita melihat orang-orang gila di jalanan. Itu semua disebabkan ia tak mampu mengelola pikirannya untuk bangkit dan menghadapi kenyataan dengan sabar dan ikhlas.

Jadi, kesimpulannya, ketika Anda gagal dalam hal apapun, anggaplah itu adalah sebuah jalan bagi Anda untuk menuju kesuksesan. Orang yang sukses, pasti pernah gagal. Tinggal bagaimana cara kita menghadapinya saja. Orang yang berhasil mengelola kegagalannya, berarti ia adalah orang yang sukses. Semoga kita termasuk orang-orang yang sukses! Amien.

Selasa, 03 Maret 2015

Sukses Itu, Kerjasama Tim bukan Pribadi

Sukses itu bukan kerjaan pribadi, tapi kerjaan banyak orang. Kok bisa? Tanpa bantuan orang lain, sehebat apapun ia, tidak akan bisa sukses. Orang seperti Pele, Maradona, Messi, Ronaldo misalnya, tetap butuh seorang kiper, back, atau gelandang untuk bisa sukses. Sehebat apapun mereka menggiring bola (drible) tidak akan bisa membuat timnya memang, jika tanpa ada orang lain yang membantunya. Siapa mereka itu? Ya tentu saja: kiper, back, dan gelandang.

Beberapa orang, seperti orang yang saya sebutkan di atas, memang memiliki kelebihan khusus dibandingkan pemain lainnya. Karena itu, mereka lebih menonjol di dalam sebuah tim. Namun, sekali lagi, kalau bicara kesuksesan, tentu ia tak bisa bekerja sendirian. Ia tetap butuh bantuan orang lain.

Seorang bos misalnya, tidak akan bisa sukses tanpa adanya karyawan. Bahkan, seorang pedagang, tetap tidak akan bisa sukses kalau tidak ada pembeli. Jadi, kesuksesan itu tidak bisa diraih seorang diri, tapi atas bantuan orang lain. Jadi, tidak pada tempatnya jika kita tetap berpongah diri atau membanggakan diri atas keberhasilan yang kita raih.

Karena itu, tidak tepat jika ada orang sukses mengatakan, "Saya sukses karena usaha saya pribadi." 

Jadi, sekali lagi, tidak tepat kita berbangga diri atas kesuksesan yang kita raih, sementara kita bisa sukses karena jasa orang lain juga. Semoga kita sukses! Amien. 

Cara Orang Sukses Menyikapi Kesuksesannya

Tidak semua orang mampu menjaga ucapannya untuk tetap rendah hati ketika sukses. Yang ada, mereka akan bilang, "Saya sukses karena memang saya pantas untuk sukses." Ada seorang pesepakbola mengatakan (setelah menjuarai Liga Inggris), "Dengan gelar ini, saya sumpal mulut orang-orang yang berbicara buruk tentang saya."

Apakah salah mereka berbicara seperti itu? Tidak ada yang salah. Ini persoalan etika saja dan bagaimana cara mempertahankan kesuksesannya itu? Biasanya,orang yang arogan alias tidak rendah hati, sangat sulit untuk mempertahankan kesuksesannya. Sebab, ketika ia pongah (arogan), saat itu pulalah ia sudah merasa puas. Ketika pesepakbola menjuarai sebuah liga misalnya, perkataan yang baik semestinya, "Puji Tuhan, kami telah menjuarai sebuah liga yang berat. Ini memang gelar yang penting, tetapi kami tidak boleh lupa diri. Masih ada liga champion di depan. Kami tidak mau larut dalam eforia."

Demikian seterusnya, kalaupun nanti ia menjuarai liga champion, orang yang rendah hati akan tetap mengatakan, "Gelar ini patut disyukuri. Tetapi, tahun depan jelas tantangannya jauh lebih berat. Mempertahankannya akan jauh lebih sulit dibandingkan meraihnya. Karena itu, kami harus tetap fokus dan bekerja keras."

Itulah yang dilakukan oleh Messi misalnya.Bagaimana ia bisa sukses dengan meraih empat kali berturut-turut Ballon d'Or (memecahkan Michel Platini yang meraih tiga kali dan juga Marco Van Basten)? Itu semua karena sikapnya yang sangat rendah hati. Setiap kali ia meraih sebuah kemenangan atau gelar, ia akan selalu mengatakan bahwa "Ini adalah kemenangan tim, bukan kemenangan saya pribadi" atau "gelar ini saya persembahkan untuk tim saya" dan sebagainya.

Ketika pemilihan Ballon d'Or tahun 2012, banyak orang memprediksi bahwa Messi akan meraihnya kembali. Ia digadang-gadang akan memecahkan prestasi yang pernah diraih pendahulunya. Namun, apa komentar dan keinginan Messi? Ia malah berharap bahwa yang bisa meraihnya adalah temannya di Barca, yaitu Xavi Hernandez atau Andreas Iniesta.

"Masih banyak waktu sebelum kita tahu siapa pemenang Ballon d'Or. Kita bahkan belum tahu siapa saja nominasinya. Yang bertanggung jawablah yang akan menentukannya.Walau demikian, saya berharap Ballon d'Or tetap berada di kamar ganti Barca. Semoga Xavi atau Iniesta yang memenanginya karena mereka pantas mendapatkannya setelah apa yang dilakukannya tahun lalu dan di Euro 2012," kata Messi kepada Sport.

Demikian komentar orang sukses yang sangat hebat seperti Messi. Akhirnya, ia pun meraih Ballon d'Or-nya yang keempat, yang otomatis telah memecahkan rekor peraih sebelumnya, tiga kali. Apa yang dikatakan Messi saat meraih gelar yang sangat prestisius tersebut, "Sejujurnya ini sangat luar biasa. Penghargaan yang aku miliki ini terlalu besar jika diucapkan dengan kata-kata.Aku ingin berterima kasih kepada rekanku di Barcelona, Iniesta. Sangat senang bisa berlatih dan bermain bersamamu. Aku ingin berterima kasih kepada seluruh rekanku di tim nasional Argentina. Seluruh orang yang telah bekerja bersamaku, pelatih, keluarga, teman, dan juga untuk istri dan anakku, terima kasih."

Bagi Messi, gelar Ballon d'Or sebenarnya hal yang biasa, sebab ia telah meraih tiga kali sebelumnya. Namun, ketika ia meraihnya untuk keempat kalinya, ia tetap menganggap gelar tersebut sebagai hal yang sangat luar biasa.

Jadi, akankah kita tetap menyombongkan diri sementara orang yang sangat sukses seperti Messi saja masih tetap rendah hati. Semoga kita dikaruniai Tuhan bakat untuk tetap rendah hati. Amien.