Selasa, 10 Maret 2015

KISAH SUKSES “SI ANAK SINGKONG” (Bagian 1)

Terus terang, julukan “Si Anak Singkong” kepada sosok pengusaha sukses yang kaya raya, Chairul Tanjung, saya dapatkan dari buku beliau yang berjudul “Chairul Tanjaung Si Anak Singkong”. Buku yang ditulis oleh Tjahja Gunawan Diredja ini termasuk best seller dalam dunia perbukuan Indonesia.

Buku ini mengupas tentang rahasia sukses Chairul Tanjung menjadi seorang pengusaha. Dalam kata pengantarnya, Jacob Utama selaku pemilik Gramedia Group, mengapresiasi keberhasilan Chairul Tanjung dalam merintis usahanya. Masih muda, tapi aset kekayannya triliunan rupiah sehingga masuk jajaran orang terkaya di Indonesia. Dia pun dijuluki the rising star (bintang yang lain naik daun). Tentu saja, bintang dalam dunia pengusaha, bukan artis.

Menurut Jacob, kunci sukses Chairul Tanjung adalah karena ia tipe pekerja keras dan pekerja tuntas. Apa yang disentuhnya selalu berhasil menjadi ladang uang. Karena itu, ia pun menjuluki “Si Anak Singkong” ini sebagai Midas. Kita tahu bahwa sosok Raja Midas adalah mitologi Yunani kuno tentang orang sakti yang mampu merubah benda apapun menjadi emas setiap kali disentuh, termasuk makanan.

Demikianlah Chairul Tanjung, usaha apapun yang ia sentuh selalu berhasil, mulai dari bidang keuangan, properti dan media. Tinggal satu lagi yang ingin diwujudkannya, yaitu ingin membuat bisnis penerbangan. Kita doakan semoga berhasil keinginannya kelak. Amien.

Chairul Tanjung mengakui bahwa kunci suksesnya adalah karena kerja keras. “Sukses tidak bisa diraih dalam waktu sekejap,” ujarnya. Karena itu, butuh kerja keras untuk mencapainya. Selain kerja keras, tentunya adalah kepercayaan dan moralitas. “Saya hampir tidak pernah memberikan upeti kepada pejabat negara atau direksi bank karena bukan itu tujuan saya. Saya mendapatkan kredit dari bank bukan dengan cara menyogok. Mendapatkan kredit karena mempunyai track record yang baik,” katanya.

Bandingkan dengan kebanyakan para pengusaha lainnya. Untuk mendapatkan tender saja, harus nyogok sana-sini. Sementara Chairul Tanjung tidak melakukannya. Karena ia sadar bahwa moralitas dan kebenaran agama harus ditempatkan di tempat yang paling atas. Tapi, tahukah Anda bahwa Chairul Tanjung melalui semuanya itu dengan tidak mudah. Lihat saja berikut ini:

1. Harus menggadai kain halus ibunya untuk bisa kuliah.

Chairul Tanjung diterima kuliah di Fakultas Kedokteran Gigi (FKG) Universitas Indonesia dengan biaya sebesar 75.000. Saat itu, 1980-an, uang segitu cukuplah besar. Namun, Chairul Tanjung belum menyadari dari mana ibu bisa mendapatkan uang sebanyak itu. Yang ia tahu, bahwa saat dirinya minta uang untuk menyelesaikan pembayaran masuk kuliah, ia hanya diminta untuk menunggu beberapa hari. Setelah beberapa pekan kuliah, barulah ia menyadari bahwa uang itu didapatkan dari menggadai kain halus milik ibunya. Jadi, saat diminta untuk menunggu beberapa hari, ternyata saat itu ibu harus pontang-panting menggadaikan kain halus miliknya.

“Chairul, uang kuliah pertamamu yang ibu berikan beberapa hari yang lalu ibu dapatkan dari menggadaikan kain halus ibu. Belajarlah dengan serius, Nak,” ujar sang ibu kala itu.

Chairul Tanjung sempat shock mendengarnya. Namun, semua itu dijadikan pelajaran baginya untuk serius kuliah dan juga mulai bekerja keras agar bisa mandiri untuk membiayai kuliahnya.

2. Bisnis Fotokopi & Alat Kedokteran

Sebagai upaya untuk mandiri, Chairul Tanjung mulai menerapkan otak bisnisnya. Saat itu ada tugas dari dosen untuk mengcopy buku praktikum setebal 20 halaman. Kalau dicopy di sekitar kampus harganya 500 rupiah. Namun, Chairul Tanjung menemukan tempat fotokopi kenalannya yang mampu menghargainya sebesar 150 rupiah saja. Selisihnya sangat jauh. Karena itu, ia pun menawarkan ke teman-teman untuk mengkopi di tempat langganannya sebesar 300 rupiah. Mereka menyanggupinya. Dari situlah, Chairul Tanjung mulai belajar bisnis. Dari satu orang ia bisa mendapatkan keuntungan 150 rupiah. Dikalikan 100 orang teman-temannya, ia pun mendapatkan keuntungan 15.000 rupiah saat itu. Jumlah yang lumayan besar.

Dari sinilah ia terus menggeluti bisnis broker fotokopi ini. Makin lama langganannya bukan saja teman-temannya, tapi juga dosen. Keuntungannya pun mulai naik menjadi 50 ribu rupiah dan seterusnya. Sehingga ia pun dijuluki “juaragan fotokopi”. Lucu juga, juragan tapi tidak punya mesin fotokopi. Karena, memang, ia hanya broker saja.

Selain menjadi broker bisnis fotokopi, Chairul Tanjung pun mulai merambah ke bisnis alat-alat praktikum kedokteran. Jadi, mahasiswa banyak yang memesan alat praktikum kedokteran ke dirinya. Dia pun sukses karena tidak ada saingannya. Karena saat itu mahasiswa belum terpikir untuk berbisnis. Sementara, “Saya menjadikan kampus sebagai ajang untuk berdagang,” ujar Chairul Tanjung.

Bersambung….

Sumber:

http://www.eep-khunaefi.net/kisah-sukses-si-anak-singkong-bagian-1.html









Tidak ada komentar:

Posting Komentar